Mollusca (kekerangan, tiram mutiara, abalone). Jenis kekerangan yang dikembangkan antara lain kerang dara(Anadara granulosa), kerang hijau (Perna viridis), abalone (Haliotis sp). Ketiga jenis kerang tersebut mempunyai nilai ekonomis tinggi, bahkan abalone harga ekspornya bisa mencapai US$25.-/kg. Upaya pengembangannya telah dilakukan melalui Program BUPEDES, penetapan daerah reservat, pemantauan mutu lingkungan, penerapan budidaya higienis, dan depurasi.
Daerah sentra pengembangan adalah di Sumut, Riau,Kep. Riau, Jambi Babel, DKI, Banten, Jatim, NTB, Sulsel, Maluku dan Papua. Sedangkan tiram mutiara telah berkembang terutama di Indonesia Timur. Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya mutiara ini umumnya berkaitan dengan keamanan, khususnya sejak ter-jadinya krisis ekonomi yang banyak me-nimbulkan pengangguran dan kerawanan sosial lainnya. Keong atau moluska ber-cangkang dua ini juga merupakan hasil yang cukup potensial dari terumbu karang. Hanya saja, jenis ini sudah dilindungi secara internasional, karena sangat jarang ditemukan akibat pengambilan yang berlebihan oleh masyarakat. Saat ini, permintaan kima di luar negeri cukup besar.
Kima banyak digunakan sebagai bahan makanan di beberapa restoran, terutama di Jepang atau dimanfaatkan sebagai hewan akuarium yang menarik. Harga hewan ini pun sangat tinggi karena mempunyai warna dan corak beragam dan indah. Di Indonesia, kima sudah mulai dibudidayakan untuk menghindari kepunahan. Misalnya di Taman Nasional Laut Takaborate Selayar, Sulawesi Selatan yang diprakasai oleh World Wide Fund for Nature (WWF), sebuah lembaga internasional yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Meski dengan peralatan sederhana hatchery mini yang dibangun WWF di pulau Rajuni Kecil itu berhasil mengembangkan kima.
Pada tahap awal, WWF hanya mengumpulkan lima ekor kima selatan (Tridacna derasa) dan dua ekor kima raksana (Tridacna gigas) yang didapat dari kawasan taman nasional.Namun, dari tujuh induk kima tersebut setelah dipijahkan kini telah menghasilkan 150 juta lebih bibit kima. Indonesia kelak menjadi produsen mutiara terbesar di dunia. Terkenal dengan mutiara dari selatan. Bisnis mutiara adalah bisnis butuh kesabaran dan berani ganti rugi, karena dibutuhkan minimal waktu 2 tahun untuk berproduksi. Selain itu untuk membiakkan kerang mutiara perlu keahlian tinggi. Apalgi kerang mutiara sangat rentan terhadap cuaca, suhu air laut dan polusi. Tapi, kalau semuanya berhasil, keuntungan yang diperoleh pun tidak sedikit. Benda putih berkilau ini memang membuat mata terpesona. Banyak orang rela mengeluarkan duit untuk memilikinya.
Sejak beberapa abad lalu, mutiara telah diperdagangkan. Hanya saja, produk mutira di masa lalu berbeda dengan saat ini. Dulu belum ada teknologi budidaya mutiara. Dimasa lalu, kerang mutiara hanya didapat dari hasil selam, para nelayan di laut lepas. Itu sebabnya, mutiara menjadi perhiasan langka dan harganya melambung. Itu sebabnya banyak bangsa berlomba-lomba memikirkan upaya mengembangkan mutiara. Jepang dan Cina termasuk bangsa yang paling awal membudidayakan kerang mutiara. Pada abad ke 16 mereka sudah mencoba membiakkan kerang mutiara laut serta air tawar. Sejauh ini, dikenal empat jenis mutiara hasil budidaya. Yang lebih dulu dikembangkan adalah mutiara akoya. Batu mulia ini dihasilkan dari kerang pincdata yang terapat di Jepangdan Cina. Besarnya umumnya tak lebih dari 10mm, warnanya putih dan dengan beragam macam-macam.
Ada juga mutiara hitam (black pearl) yang diberi nama sesuai dengan warnanya hitam atau keabu-abuan. Mutiara ini dihasilkan kerang Pinctada margaritifer Ukurannya lebih besar dari akoya. Si hitam ini dicari karenanya warnanya paling langka Mutiara yang terbesar dari yang lainnnya adalah mutiara selatan. Mutiara ini berasal dan kerang Pinctada maxima. Warna dasarnya putih dengan berbagai nuansanya seperti peran krim, kekuningan, jambon atau keemasan. Ukuran rata-rata 9-16 mm. Bahkan ada yang mencapai 18 milimeter. Jenis terakhir kerang budidaya adalah mutiara air tawar yang banyak dikembangkan di danau dan sungai. Jepang dan Cina telah lama membiakkan Hyriosis schlegeli, keran yang menghasilkan mutiara air tawar. Jenis-jenis mutiara ini mempunyai berwacam wujud Mulai bundar sempurna, nyaris bundar, oval, drop (berbentuk tetes air) untuk buah p dan harqoue (tidak beraturan) Yang mempunyai daya jual yang tinggi adalah yang layer (lapisan)nya kuat dan sinarnya bagus, harga jual mutiara sempat mencapai US$100 per gram, bahkan US$200 per gram di pasar internasional pada 1990-an.Namun kini harganya hanya mencapai sekitar US$30 hingga US$ 40 per tahun, yang dipengaruhi oleh kondisi perekonomian makro internasional Dari jenis-jenis batu indah mutiara selatan paling banyak diminati orang. Setelah itu baru disusul mutiara hitam, akoya dan mutiara air tawar. Indonesia dikenal sebagai penghasil mutiara selatan terbesar. Maklum saja kerang mutiara selatan, pincdata maxima banyak dijumpai di kawasan Indonesia Timur. Karenaitulah sejak areal perairan Indonesia sudah terkenal dengan ladang mutiaranya.
Data dari Jewelry News Asia Magazine, edisi Maret 2001 menyebutkan Indonesia sebagai pemasok utama mutiara dunia. Walaupun Jewelry News memasukkan Indonesia sebagai urutan kedua, prediksi Organisasi Budidaya Mutiara Dunia (WPO) berbicara lain. Dalam sidang WPO di Kobe para anggota organisasi itu sepakat menyatakan bahwa Indonesia di abad ke-21 akan menjadi produsen mutiara terbesar didunia. Jika dilihat perjalanan sejarahnya, rakyat Indonesia memang terlibat bisnis mutiara sejak 1920-an. Lihat saja Hindia Belanda beserta beberapa penduduk bumi pernah menjalin kerjasama dengan Mitsubishi Co Ltd melakukan budidaya pada mutiara pada 1928.
Waktu itu, mereka bisa menghasilkan mutiara setengah jadi, kemudian Nango Shinyu K atau South Sea Pearl Co Ltd bergabung dalam kerjasama tersebut, dengan mengambil stok kerang dari Arafuru dan Australia. Namun proyek budidaya ini terhenti karena meletus Perang Dunia I tahun 1941. Selang 20 tahun kemudian, usaha mutiara dimulai kembali, perusahaan patungan Indonesia-Jepang, PT. Maluku Pearl Development, berdiri pada 1967. Perusahaan ini bolehdibilang sebagai institusi bisnis mutiara pertama setelah kemerdekaan. Namun perkembangan bisnis sesudahnya hingga akhir tahun 1980 begitu lamban. Maklumlah, bisnis mutiara adalah uji ketabahan dan berani rugi. Membiakkan mutiara lumayan rumit dan perlu keringat ekstra, karena harus menunggu 4 tahun untuk panen mutiara. Dua tahun pertama dibutuhkan untuk mengembangbiakan kerang sehat. Dua tahun berikutnya adalah proses pembuatan mutiara itu sendiri di dalam kerang. Dahulu mutiara baru bisa dibiakkan setahun sekali, namun kini berkat kemajuan teknologi budidaya pembiakan bisa dilakukan setiap saat.
Walau begitu, proses mengembangkan mutiara tetap rumit dan butuh kesabaran. Awalnya, kerang Pinctada maxima harus dibiakkan terlebih dahulu dalam laboratorium. PT. Budidaya Mutiaratama telah memiliki sebuah laboratorium berukuran 40 x 20 meter untuk pemijahan kerang dalam bentuk larva-larva kerang mutiara di Lombok Timur. Dari larva-larva inilah kemudian tumbuh menjadi kerang yang siap meghasilkan mutiara. Caranya sebenarnya sederharna, dengan menyelipkan “kotoran” ke dalam tubuh sang kerang. Akibatnya kerang berusaha menyapu kotoran ini dengan menyelimutinya dengan senyawa tertentu. Hasilnya, itulah yang disebut mutiara. “Kotoran” itu sering disebut “nukleus”, yang berwujud seperti kelereng. Setelah ditanami nukleus, kerang-kerang diturunkan kembali kelaut.
Kerang yang telah berisi digantungkan di rakit, di dekat rumah apung. Setelah itu tinggal menunggu 2 tahun lagi untuk memanen mutiara, itupun jika tidak ada halangan. Masalahnya perkembangan kerang mutiara juga bergantung pada musim, cuaca dan air laut. Kualitas air laut yang buruk membuat mutiara banyak yang mati atau terhambat perkembangannya. Masa kritis mutiara juga terjadi ketika berukuran 2-5 cm. Pada masa ini sampai 50% kerang mutiara yang disebar di laut bisa mati. Dari separuh kerang yang hidup itu, hanya 10%-30% yang benar-benar dapat menghasilkan mutiara berkualitas baik. Mutiara Yumna ini merupakan mutiara yang berasal dari Lombok. Mutiara ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu mutiara air laut dan air tawar. Mutiara Yumna memiliki warna dan model yang menarik, terutama yang berasal dari air laut. Mutiara Yumna air laut memiliki kualitas yang lebih terjamin tahan lama dibanding dengan air tawar. Untuk perhiasan kombinasi mutiara air laut yang berbahan dasar perak maupun baja dipatok harga yang terbilang tinggi yaitu sekitar 3 juta hingga 36 juta, hal itu dikarenakan kualitasnya yang baik serta persediaan barang yang terbatas karena diambil langsung dari dasar laut.
Sementara itu, untuk mutiara air tawar penjual mematok harga yang cukup terjangkau yaitu sekitar 30-300 ribu rupiah. Namun, model yang ditawarkan untuk mutiara air tawar tersebut tak kalah dengan mutiara air laut. Mutiara ini dapat dijadikan aksesori menarik seperti anting, cincin, kalung dan bros. Kerajinan kerang berupa boneka pajangan unik, jaring, tirai, kap lampu meja, gelang, bros, asbak, kaca,dan jam dinding.
Pearl Diameter : 1,2cm-1,6mm
Weight : 3 gr – 5 gr
Pearl Shape : Round
Shine : Mirror Reflection
Luster : Highest (Gem)
Nacre : Very Thick
Pearl Origin : Lombok Island
Grade A = IDR 400.000,-/gr ; Grade B+ = IDR 340.000,-/gr ; Grade B = IDR 300,000
About these ads